SENI ADALAH RITUAL? RITUAL ADALAH
SENI?
Pengantar
diskusi pada seminar Mahasiswa - ISBI Sulawesi Selatan 2017
Oleh:
Firman Djamil
Judul
diatas adalah sebuah pertanyaan mendalam pada masyarakat seni dalam praktek
estetik diranah kontemporer.
Sebuah
kata kunci dalam memasuki diskusi untuk menggali spirit ritual kita pada praktek seni kontemporer:
“Mitos, memelihara dan mewariskan paradigma” (Mircea Eliade’1958)
Manusia
kuno merasakan dirinya tidak dapat dipisahkan dengan kosmos dan irama kosmik,
sedangkan manusia yang berasal dari masyarakat modern menyatakan bahwa dia
hanya berhubungan dengan sejarah.
Dari
pernyataan ini, adakah saling keterhubungan antar keduanya, antar manusia
dengan tradisi kuno yang transendental dengan tradisi manusia modern yang logik
yang dapat kita ambil hikmahnya? untuk kemudian dapat dipakai sebagai jalan
estetik dalam prosesi kontemporer atau kekinian dalam memproduksi intelektualitas
dan kesenian kita?
Pemahaman
umum kita tentang Seni dan ritual telah terhubung sejak karya seni paling awal
diciptakan di Zaman Batu Tua. Mari kita mencoba untuk mencari tahu hubungan
antara seni dan ritual melalui beragam contoh yang telah dipraktekkan oleh
kelompok masyarakat dan juga praktek seni dari seniman dari banyak belahan
dunia dan banyak periode waktu, termasuk seni kontemporer. Bagaimana seni telah
digunakan dalam ritual yang berkaitan dengan keyakinan spiritual, penyembuhan,
siklus hidup, kekuatan politik, kohesi sosial, dan identitas pribadi? Atau apa
saja proses dimana seni mewujudkan, mewakili, atau mengubah kepercayaan
spiritual dan keyakinan lainnya dalam ritual?
Apa hubungan antara Ritual dan Seni?
Beberapa
pandangan:
-
Sir Ernst Gombrich OM (1909-2001) Sejarawan seni kelahiran
Austria dalam 'The Story of Art': dia
mengatakan bahwa "Tidak ada yang namanya Seni. Hanya ada seniman.
Dalam seni dan ritual, Gombrich mengemukakan hipotesisnya
bahwa sejauh menyangkut isyarat, skema yang digunakan oleh seniman pada umumnya
telah terbentuk dalam ritual, dan bahwa seni dan ritual tidak dapat dipisahkan.
Namun menambahkan bahwa dalam sejarah seni, masalah estetika semacam itu
biasanya dianggap sebagai perpecahan teoritis antara ungkapan 'tulus' versus
'teatrikal'. Bahkan Gombrich menegaskan tentang bahaya ritual karen adanya
simbol ketulusan dengan akting-teaterikal
yang tidak realistis seperti yang ditujukan pada acungan tinju poster-poster
heroik komunis Rusia. Sejak era komunisme sampai dengan praktek Demokrasi,
penguasa mendominasi praktek kesenian kita dengan jargon pencitraan – sebagai
Jargon politik penguasa. F8 misalnya di Makassar.
-
John Dewey, berpendapat : Seni adalah Ritual” seni adalah
keseharian itu sendiri. Seni merujuk pada artefak. Sebuah objek batu hanya akan
menjadi objek seni bila ada sesorang yang memberi “frase”. Seorang seniman
dalam kesehariannya akan mengukir memproduksi benda seni yang estetis.
(Bandingkan dengan penciptaan keris oleh seorang empu).
Teori seni Dewey ini lebih cenderung kepada praktek seni
environmental. Seni yang dibangun berdasarkan kolektifitas sebagai bagian dari
ekspresi masyarakat.
-
Cynthia Freeland dalam “But It Is Art?” Freeland tidak
bermaksud untuk menegaskan bahwa semua karya seni adalah ritual atau bagian
dari ritual. Tetapi dia berpendapat "Ada kesinambungan antara seni dan
ritual. Ritual dan seni pada dasarnya terhubung, dan seni memainkan fungsi yang
sama hari ini dengan ritual yang dimainkan di masa lalu." Juga bisa
berarti bahwa cara terbaik untuk memahami sifat seni adalah memahami
hubungannya dengan ritual.
Freeland menganggap teori ritual seni sebagai teori implisit
yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat sebelum teori imitasi. Bukannya
masyarakat seperti itu benar-benar memiliki konsep seni, tapi mereka memiliki
praktik ritual tertentu, dan apa pun yang menjelaskan praktik ini juga akan
menjelaskan konsep penerus yang sekarang kita sebut seni.
Kesimpulan Freeland adalah bahwa meskipun seni dapat memiliki
"aspek ritualnya sendiri", aspek-aspek ini "sama sekali tidak
seperti yang dicapai oleh peserta yang sadar dengan nilai transenden yang
sama": seperti dalam ritual suku Maya.
Disinilah sulitnya alasan teori ritual dipraktekkan dalam
praktek seni kontemporer.
Seperti yang dicontohkan dalam karya Andres Serrano's Piss
Christ (1987). Karya itu adalah foto berwarna yang sangat jenuh dari sebuah
salib yang mengambang di toples urin.
Salib serrano membangkitkan jenis religiusitas yang sama Andy
Warhol memberi penghormatan pada seri Perjamuan Terakhir, sebuah sorotan seni
yang terkenal pada tahun 1980an, dan sama seperti Warhol adalah seorang Katolik
yang tulus, Serrano menciptakan citra semangat barok yang jelas dan intens.
Penderitaan Kristus dilihat melalui kaca, secara gelap - atau dalam hal ini
bersinar melalui air kencing kuning, bercahaya tanpa noda di dalam detritus tubuh
bau busuk.
Sekarang bagaimana dengan kita?
Nusantara
terbentang luas berupa samudra dan pulau-pulau yang kesemuanya dipenuhi beragam
ritual dan budaya. Kekayaan atas keberagaman budaya Nusantara, seharusnya
menjadikan kita terdepan dalam mengemukakan teori seni dan ritual yang mutahir
untuk diutarakan kepermukaan dalam mewacanakan seni di forum dunia.
Budaya
kita mengenali berbagai mitologi dan pusat-pusat ritus. Misalnya Pusat kosmis
manusia Bugis yang dilukiskan dalam epik I La Galigo yang mashur itu yang
terdiri dari Dunia atas - Boting Langi,
Dunia tengah dunia manusia - Ale Kawaq, Dunia bawah Paratiwi - Buri Liu. Atau
tentang Borobudur sebagai pusat kosmis di tanah Jawa, atau Kabbah di Makkah
sebagai pusat kosmis dan religiusitas ummat muslim. Keunggulan ritual ini
karena mengunakan metode perulangan sebagai bagian menentukan untuk mewujudkan
kwalitas spiritual untuk mewujudkan nilai yang paripurna.
Kesimpulan
Semestinyalah
para kaum intelektual dan pelaku seni di Indonesia atau Makassar khususnya,
berbenah untuk mengemukakan keunggulan-keunggulan budayanya untuk dijadikan
spirit dalam menciptakan keunggulan dibidang filsufat dan seni.
Pengalaman
dari dari ketiga pandangan filsuf diatas, kita akan mengambil manfaat untuk
tujuan proses kreatif dalam memasuki ranah seni kontemporer dengan lebih cenderung
memilih pandangan John Dewey karena lebih dekat dengan kondisi faktual dengan
tradisi budaya nusantara. Teori seni sebagai ritual keseharian, dimana kita
dapat mengenal sebuah budaya melalui pengalaman langsung dari kegiatan seninya
sebagai fakta eksternal.
Praktek
ritual dan seni seharusnya memperkuat hubungan masyarakat yang benar dengan
Tuhan, dan kekerabatan antara masyarakat.
Sumber Bacaan:
-
Mircea
Eliade, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah, Penerbit: Ikon
Teralitera, Yogyakarta 2002
-
E.H
Gombrich, The Story of Art, Phaidon Press, New York, 1960
-
https://archive.org/stream/in.ernet.dli.2015.29158/2015.29158.The-Story-Of-Art#page/n5/mode/2up
-
Cynthia A.
Freeland, But It Is Art?, An Introduction to Art Theory, Oxford University
Press, 2001
-
Marcia
Muelder Eaton, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, Penerbit Salemba Humanika,
Jakarta 2010
-
Arung
Pancana Toa, La Galigo Jilid II, Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin,
Makassar 2000
-
Art-Firman
Djamil, www.firmandjamil.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar