Jumat, 17 April 2026

SENI ADALAH RITUAL? RITUAL ADALAH SENI?

 

SENI ADALAH RITUAL? RITUAL ADALAH SENI?

Pengantar diskusi pada seminar Mahasiswa - ISBI Sulawesi Selatan 2017

Oleh: Firman Djamil

 

Judul diatas adalah sebuah pertanyaan mendalam pada masyarakat seni dalam praktek estetik diranah kontemporer.

Sebuah kata kunci dalam memasuki diskusi untuk menggali spirit ritual kita pada praktek seni kontemporer:

                “Mitos, memelihara dan mewariskan paradigma” (Mircea Eliade’1958)

Manusia kuno merasakan dirinya tidak dapat dipisahkan dengan kosmos dan irama kosmik, sedangkan manusia yang berasal dari masyarakat modern menyatakan bahwa dia hanya berhubungan dengan sejarah.

Dari pernyataan ini, adakah saling keterhubungan antar keduanya, antar manusia dengan tradisi kuno yang transendental dengan tradisi manusia modern yang logik yang dapat kita ambil hikmahnya? untuk kemudian dapat dipakai sebagai jalan estetik dalam prosesi kontemporer atau kekinian dalam memproduksi intelektualitas dan kesenian kita?

 

Pemahaman umum kita tentang Seni dan ritual telah terhubung sejak karya seni paling awal diciptakan di Zaman Batu Tua. Mari kita mencoba untuk mencari tahu hubungan antara seni dan ritual melalui beragam contoh yang telah dipraktekkan oleh kelompok masyarakat dan juga praktek seni dari seniman dari banyak belahan dunia dan banyak periode waktu, termasuk seni kontemporer. Bagaimana seni telah digunakan dalam ritual yang berkaitan dengan keyakinan spiritual, penyembuhan, siklus hidup, kekuatan politik, kohesi sosial, dan identitas pribadi? Atau apa saja proses dimana seni mewujudkan, mewakili, atau mengubah kepercayaan spiritual dan keyakinan lainnya dalam ritual?

 

Apa hubungan antara Ritual  dan Seni?

Beberapa pandangan:

-          Sir Ernst Gombrich OM (1909-2001) Sejarawan seni kelahiran Austria dalam 'The Story of Art':  dia mengatakan bahwa "Tidak ada yang namanya Seni. Hanya ada seniman.

Dalam seni dan ritual, Gombrich mengemukakan hipotesisnya bahwa sejauh menyangkut isyarat, skema yang digunakan oleh seniman pada umumnya telah terbentuk dalam ritual, dan bahwa seni dan ritual tidak dapat dipisahkan. Namun menambahkan bahwa dalam sejarah seni, masalah estetika semacam itu biasanya dianggap sebagai perpecahan teoritis antara ungkapan 'tulus' versus 'teatrikal'.    Bahkan Gombrich  menegaskan tentang bahaya ritual karen adanya simbol ketulusan  dengan akting-teaterikal yang tidak realistis seperti yang ditujukan pada acungan tinju poster-poster heroik komunis Rusia. Sejak era komunisme sampai dengan praktek Demokrasi, penguasa mendominasi praktek kesenian kita dengan jargon pencitraan – sebagai Jargon politik penguasa. F8 misalnya di Makassar.

 

-          John Dewey, berpendapat : Seni adalah Ritual” seni adalah keseharian itu sendiri. Seni merujuk pada artefak. Sebuah objek batu hanya akan menjadi objek seni bila ada sesorang yang memberi “frase”. Seorang seniman dalam kesehariannya akan mengukir memproduksi benda seni yang estetis. (Bandingkan dengan penciptaan keris oleh seorang empu).

Teori seni Dewey ini lebih cenderung kepada praktek seni environmental. Seni yang dibangun berdasarkan kolektifitas sebagai bagian dari ekspresi masyarakat.

 

-          Cynthia Freeland dalam “But It Is Art?” Freeland tidak bermaksud untuk menegaskan bahwa semua karya seni adalah ritual atau bagian dari ritual. Tetapi dia berpendapat "Ada kesinambungan antara seni dan ritual. Ritual dan seni pada dasarnya terhubung, dan seni memainkan fungsi yang sama hari ini dengan ritual yang dimainkan di masa lalu." Juga bisa berarti bahwa cara terbaik untuk memahami sifat seni adalah memahami hubungannya dengan ritual.

Freeland menganggap teori ritual seni sebagai teori implisit yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat sebelum teori imitasi. Bukannya masyarakat seperti itu benar-benar memiliki konsep seni, tapi mereka memiliki praktik ritual tertentu, dan apa pun yang menjelaskan praktik ini juga akan menjelaskan konsep penerus yang sekarang kita sebut seni.

Kesimpulan Freeland adalah bahwa meskipun seni dapat memiliki "aspek ritualnya sendiri", aspek-aspek ini "sama sekali tidak seperti yang dicapai oleh peserta yang sadar dengan nilai transenden yang sama": seperti dalam ritual suku Maya.

 

Disinilah sulitnya alasan teori ritual dipraktekkan dalam praktek seni kontemporer.

Seperti yang dicontohkan dalam karya Andres Serrano's Piss Christ (1987). Karya itu adalah foto berwarna yang sangat jenuh dari sebuah salib yang mengambang di toples urin.

Salib serrano membangkitkan jenis religiusitas yang sama Andy Warhol memberi penghormatan pada seri Perjamuan Terakhir, sebuah sorotan seni yang terkenal pada tahun 1980an, dan sama seperti Warhol adalah seorang Katolik yang tulus, Serrano menciptakan citra semangat barok yang jelas dan intens. Penderitaan Kristus dilihat melalui kaca, secara gelap - atau dalam hal ini bersinar melalui air kencing kuning, bercahaya tanpa noda di dalam detritus tubuh bau busuk.

 

Sekarang bagaimana dengan kita?

Nusantara terbentang luas berupa samudra dan pulau-pulau yang kesemuanya dipenuhi beragam ritual dan budaya. Kekayaan atas keberagaman budaya Nusantara, seharusnya menjadikan kita terdepan dalam mengemukakan teori seni dan ritual yang mutahir untuk diutarakan kepermukaan dalam mewacanakan seni di forum dunia.

Budaya kita mengenali berbagai mitologi dan pusat-pusat ritus. Misalnya Pusat kosmis manusia Bugis yang dilukiskan dalam epik I La Galigo yang mashur itu yang terdiri dari Dunia atas  - Boting Langi, Dunia tengah dunia manusia - Ale Kawaq, Dunia bawah Paratiwi - Buri Liu. Atau tentang Borobudur sebagai pusat kosmis di tanah Jawa, atau Kabbah di Makkah sebagai pusat kosmis dan religiusitas ummat muslim. Keunggulan ritual ini karena mengunakan metode perulangan sebagai bagian menentukan untuk mewujudkan kwalitas spiritual untuk mewujudkan nilai yang paripurna.

 

Kesimpulan

Semestinyalah para kaum intelektual dan pelaku seni di Indonesia atau Makassar khususnya, berbenah untuk mengemukakan keunggulan-keunggulan budayanya untuk dijadikan spirit dalam menciptakan keunggulan dibidang filsufat dan seni.

Pengalaman dari dari ketiga pandangan filsuf diatas, kita akan mengambil manfaat untuk tujuan proses kreatif dalam memasuki ranah seni kontemporer dengan lebih cenderung memilih pandangan John Dewey karena lebih dekat dengan kondisi faktual dengan tradisi budaya nusantara. Teori seni sebagai ritual keseharian, dimana kita dapat mengenal sebuah budaya melalui pengalaman langsung dari kegiatan seninya sebagai fakta eksternal.

Praktek ritual dan seni seharusnya memperkuat hubungan masyarakat yang benar dengan Tuhan, dan kekerabatan antara masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Bacaan:

-          Mircea Eliade, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah, Penerbit: Ikon Teralitera, Yogyakarta 2002

-          E.H Gombrich, The Story of Art, Phaidon Press, New York, 1960

-          https://archive.org/stream/in.ernet.dli.2015.29158/2015.29158.The-Story-Of-Art#page/n5/mode/2up

-          Cynthia A. Freeland, But It Is Art?, An Introduction to Art Theory, Oxford University Press, 2001

-          Marcia Muelder Eaton, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, Penerbit Salemba Humanika, Jakarta 2010

-          Arung Pancana Toa, La Galigo Jilid II, Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar 2000

-          Art-Firman Djamil, www.firmandjamil.blogspot.com

Tidak ada komentar: