DI OUTDOOR, SENIMAN ADALAH ORANG BIASA
By: Firman Djamil
Humanisme Komunal Biennale Jogja X 2009
“Selama 10 kali digelar
hajatan yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali, akhirnya Biennale Jogja X
kembali ke rakyat”. Pernyataan tersebut ditekankan Direktur Biennale Jogja X,
Butet Kertaradjasa pada pembukaan pameran 11 Desember 2009. Kembali ke rakyat
memberi tanda bahwa kesenian dalam format biennale merupakan bagian dari
kehidupan sosial dan budaya masyarakat luas. Karenanya, harus dikembalikan kepada
mereka.
Untuk mendekati nilai
kerakyatan, model pameran biennale dibagi menjadi presentasi indoor dan outdoor.
Di dalam ruangan, dipamerkan karya lukisan, digital print dan karya berbentuk
tiga dimensi berupa patung, instalasi obyek dan seni video. Pameran indoor menempatkan
karya seniman di Taman Budaya, Museum Nasional Jogyakarta dan Sangkring
Gallery, plus pameran arsip tentang perjalanan sejarah Biennale Jogja yang
dipersembahkan oleh IVAA di gedung Bank Indonesia. Sementara di ruang terbuka,
yang di istilahkan Public on the Move, ditampilkan karya patung,
instalasi, seni mural dan art performance. Pameran ruang terbuka
menempati seluruh ruang publik kota Yogyakarta termasuk di papan-papan iklan
kota.
Biennale Jogja X 2009 dalam membangun kerangka teoritisnya, menggunakan
istilah Jamming mengingatkan pada jam-session di
pentas musik, misalnya ngejazz bersama-sama dan disebut Jamming-Gerakan Arsip
Senirupa. Gerakan arsip merupakan konsep dalam mempresentasikan perhelatan
biennale secara keseluruhan. Menurut kurator biennale, jamming bertujuan
mendapatkan ruang apresiasi dan refleksi kemanusiaan dalam keragaman praktik
karya senirupa, mengelola gerakan terbuka dan komunal, mengarsip praktek
artistik semua bentuk seni rupa di Jogyakarta.
Dalam menguatkan
legitimasi dukungan kepada kelembagaan biennale ini, panitia melakukan
serangkaian acara diskusi yang menguraikan pesan-pesan dari isi biennale X, termasuk
acara kuliah umum diruang terbuka (public
lecture).

“Sapu Merah” Karya Firman Djamil - Biennale
Jogja X 2009
(Foto: Dokumentasi Firman Djamil)
Kembali ke Rakyat
Gagasan “kesenian
kembali ke rakyat” tidak terlepas dari sejarah perjalanan panjang Biennale
Jogja. Dimulai sejak tahun 1998 yang ketika itu bernama BSLY-Biennale Seni
Lukis Yogyakarta. Sejarah biennale merupakan diaspora kesenimanan Yogya yang
berasal dari berbagai kelompok senirupa. Termasuk kalangan akademisi dari
berbagai perguruan tinggi, terutama dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Institusi ini banyak melahirkan seniman. Ketika membaca “kesenian dan
kerakyatan” pada Biennale X, maka hal itu meretrospeksi pikiran kita pada
peristiwa Binal
Eksperimental Arts 1992.

Katalog Biennale Seni Lukis Yogyakarta dan Katalog BINAL
Eksperimental 1992. (Dokumentasi IVAA).
Perhelatan Binal
Eksperimental Arts 1992 dalam catatan arsip IVAA, adalah sebagai bentuk kritik
terhadap Institusi BSLY 1992 atas ketertutupan dan elitisme, sistem kemapaman
seni lukis pada biennale tersebut. Penentangan oleh sekelompok seniman muda,
untuk mendobrak sekat-sekat disiplin seni rupa yang terjebak dalam “elitisme
seni lukis” yang menjadi parameter tunggal praktik estetik senirupa. Sementara
perkembangan wacana senirupa di luar intitusi biennale, berkembang dan beragam
dalam bentuk ekspresi.
Seniman juga telah
bersentuhan secara terbuka pada pergaulan wacana senirupa internasional. Ketika
institusi BSLY 1992 yang luput dari keterbukaan wacana itu, maka sebagai
tandingannya, BINAL Eksperimental Arts digelar dengan 300 partisipan.
Binal ini menggelar
hajatannya diberbagai tempat indoor dan outdoor dengan ekspresi seni yang
didominasi media instalasi, art performance dan bentuk seni multi media.
Peristiwa ini menghebohkan, menjadi sorotan publik senirupa dan media massa.
Semangat Binal Eksperimental Arts 1992, menemukan kembali momentumnya pada
Biennale Jogja X 2009.
Biennale Alternatif
Biennale Jogja X
menggelar berbagai ekspresi karya dari 126 seniman. Pameran berlangsung selama
sebulan, dari 11 Desember 2009 sampai dengan 10 Januari 2010. Dalam membingkai
momen-pertemuan sebagai tafsir dari humanisme komunal, tim kurator; Eko Prawoto,
Hermanu, Samuel Indratma dan Wahyudin merumuskan semangat biennale ini atas
pembacaannya pada sejarah dan praktik penciptaan senirupa di Yogyakarta.
Rumusan itu adalah: Humanisme Kerakyatan, Humanisme Universal, Perlawanan
Terhadap Kemapanan Estetika, Pergolakan Antara Budaya Lokal dan Global,
Senirupa Urban. Kelima rumusan ini menjadi acuan interpretasi oleh seniman
kedalam karya-karya kreatif mereka dalam memasuki wacana praktek seni
kontemporer.
Merujuk pada acuan
kelima poin rumusan di atas dan berdasarkan pada presentasi pameran yang
khususnya digelar di ruang “publik kota” yang terjadi sekarang ini, maka
muncullah karakter yang unik. Berbeda dari standar biennale senirupa yang ada.
Bahkan dengan biennale internasional sekalipun. Perbedaannya terletak pada
“konsep otonomi ruang” yang ditawarkan untuk dijadikan ruang presentasi. Dalam
menggaet seniman untuk berpartisipasi dalam perhelatan Biennale Internasional, dilakukan
seleksi ketat karena adanya prosedur standar yang legitimatif dan sejumlah
aplikasi prasyarat yang harus dipenuhi oleh calon seniman peserta.
Berbanding terbalik
dengan Biennale Jogja X yang longgar, yaitu mempersilakan keberagaman kerja
seniman untuk masuk menjadi peserta biennale, sebagai acuan dari konteks
Jamming Gerakan Arsip Senirupa. Otonomi ruang pada Biennale Internasional
seperti Venice Biennale di Italia atau Gwangju Biennale di Korea, karena
didukung oleh kelembagaan mapan dan pendanaan yang kuat, mampu menciptakan
ruang otonominya sendiri dalam space yang luas dan spesifik
secara permanen. Namun interpretasi ruangnya adalah open space,
bukan outdoor. Hal ini menunjukkan kedua biennale tersebut adalah mainstream
dalam praktek kontemporerisasi senirupa. Sementara Biennale Jogja X tidak
memiliki ruang otonomi khusus dan permanen. Kemudian diikuti perbedaan dalam
mengorganisir jalannya pameran, lepas namun terkesan partisipatif. Ini membuat
Biennale Jogja berada pada posisi alternatif.
Disinilah menariknya,
karena “outdoor” sebagai konsep praktek senirupa memang tidak memiliki ruang
otonomi khusus. Outdoor adalah ruang yang bebas dan lepas dan membutuhkan model
egalitarian dalam menafsir ruang. Sedangkan open space adalah ruang otonomi
yang sudah ditentukan oleh tafsir dari kehendak atau semacam egosentrisme
penyelenggara biennale. Artinya masih berada dalam wilayah rezim indoor. Antara
acuan Venice Biennale, Gwangju Biennale dengan Biennale Jogja X yang mengarah
kepada interpretasi outdoor seharusnya berbeda, karena latar belakang sejarah
dan kondisi sosial budaya masyarakatnya yang berbeda pula.
Biarkanlah kota Venice, Gwangju dan Yogyakarta hadir dengan biennale
senirupanya masing-masing. Mainstream versus alternatif. Keunikan dari
karakteristik Biennale Jogja X menjadi poin penting sebagai modal bagi praktek
wacana seni kontemporer dalam memposisikan diri di dunia senirupa
Internasional.
Untuk menjadi biennale
berskala internasional, metode kerja Biennale Jogja harus mempertimbangkan
kesiapan seniman dalam membaca ruang publik. Kelembagaan biennale berfungsi
sebagai fasilitator dan negosiator bersama dengan seniman untuk memasuki
wilayah publik atau ruang outdoor. Contoh kesuksesan biennale alternatif dalam
memposisikan diri diwacana seni kontemporer internasional, misalnya, bisa
dilihat pada “Geumgang Biennale” di kota Gong-ju, kota kecil yang terletak 150
kilometer dari kota Seoul-Korea. Geumgang Biennale awalnya hanya berupa
symposium, setaraf dengan festival seni yang diorganisir oleh kelompok perupa
yang bernama YATOO.

Landscape of Gong-ju
City - Site for Geumgang Biennale - Korea
Through the three weeks, the artists
from around the world live together and create their works while introduction
session for the nature art project, international nature art seminar and other
programs are conducted in parallel. Programs to introduce the Korean culture to
foreign artists and IWO campers and 'patchwork for nature and peace' created
together with children and other citizens are also available during the
exhibition period. The works of the artists will be displayed in Mt. Yeonmisan
Nature Park to allow visitors to observe how they change through time (www.natureartbiennale.org).
Awal Seni Ruang Terbuka
(Outdoor)
Di akhir tahun 60-an
awal 70-an, gerakan seni yang mempertanyakan fungsi seni (sebagai perlawanan
terhadap formalisme modern dan kegagalan modernisme), meninggalkan galeri dan
museum. Gerakan ini melakukan aktivitas seni berkelanjutan di ruang terbuka dengan
mengambil landscape alam sebagai kanvas raksasa.
Menurut kritikus Maja dan Reuben Fowkes, “seni berkelanjutan” ini dapat dilacak
dengan seni konseptual yang menekankan pada dematerialisasi dan lebih memberi
perhatian pada lingkungan. Seni berkelanjutan atau sustainable art telah
muncul sebagai istilah seni yang selaras dengan prinsip-prinsip kunci
keberlanjutan, yaitu mencakup ekologi, keadilan sosial, non-kekerasan dan
demokrasi akar rumput.
Suzi Gablik, seorang guru, filosof, kurator, penulis buku “Has Modernism
Failed?” yang ditulis pada tahun 1982, mengkritik senirupa mainstream dalam
parktek seni kontemporer. Ia mengungkapkan: “Dunia seni telah menjadi
kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus di dunia seni hanyalah pencarian
keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka
mengabaikan perhatian penting seni, yaitu estetika dan etika. ‘Otonomi estetika
adalah berakar dan mendalam’, sementara praktik seni menyiratkan gagasan
keterpisahan otonomi moral dan sosial sebagai kondisi pembuatan seni”.
Gablik melihat perlunya
visi dunia yang seragam di mana seni dan etika tidak hanya berdampingan, tetapi
bekerja sama. Gablik menemukan dalam karya-karya Ken Wilber sebagai janji
integralisme. Di sini ia menemukan sebuah janji untuk mengakhiri seni yang didominasi
oleh ekonomi dan konsumerisme. Seni dibebaskan untuk menjadi hidup dan penting
bagi individu dan masyarakat.
Gerakan Koin-Prita:
Peristiwa Outdoor
Memahami gerakan
masyarakat di ruang terbuka, bisa ditelusuri melalui Gerakan Koin Prita,
misalnya. Seluruh koin dikemas dalam ratusan karung dan kantong plastik,
disimpan diberbagai ruangan di Pos Wetiga. Para relawan yang membantu
menghitung koin di tempat itu sejak Senin hingga Kamis malam tercatat sebanyak
300 orang dari berbagai kalangan. Mereka mulai dari politisi, selebritis, ibu
rumah tangga dan pedagang keliling. Kenyataan ini tertulis diberita koran
Kompas 20 Desember 2009.

Sehari
menjelang penyerahan uang koin yang semula diperuntukkan membantu membayar
denda Prita Mulyasari, Sabtu (19/12/2009), sejumlah masyarakat masih terus
menitipkan uang koin di Pos Pengumpulan Koin Wetiga, Jalan Langsat 1/3a,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Foto: Kompas/Danu Kusworo).
Tuduhan pencemaran nama
baik rumah sakit Omni Internasional atas terdakwa Prita Mulyasari, telah
diputuskan pengadilan dengan tuntutan ganti rugi sebanyak Rp204 juta. Drama
keadilan atas ibu Prita yang tak seimbang itu, berada persis didepan mata kita.
Respon serentak dari
berbagai elemen masyarakat dalam menjawab tantangan atas kesewenang-wenangan di
atas, menjadi model terbesar yang dimiliki bangsa ini untuk menyelesaikan
persoalan yang dihadapi. Peristiwa gerakan sosial publik melalui aksi pengumpulan
sumbangan uang recehan koin untuk membantu Prita yang tak berdaya, adalah
peristiwa outdoor paling spektakuler di akhir tahun 2009. Inilah peristiwa
outdoor dalam perspektif komunal Indonesia.
Di balik gerakan
partisipasi publik di atas, muatan imaji metafisik memancarkan keindahan yang
menggugah seluruh kosmis alam kejiwaan manusia. Gerakan pembebasan dari
persoalan yang dihadapi bisa teratasi dengan partisipasi publik yang
terintegrasi secara keseluruhan.
Dalam seni outdoor
melalui prinsip-prinsip seni lingkungan, dipahami bahwa seni tidak lagi
terkungkung oleh individualitas. Tetapi membangun kolektivitas dengan jalan
membentuk jaringan dan mengajak partisipasi publik dari berbagai disiplin dan
golongan. Seni tidak lagi mementingkan presentasi tafsir visual, melainkan
proses dan interaksi yang terintegrasi.
Seni lingkungan
atau environmental art adalah gerakan atas keprihatinan
kondisi alam dan bumi manusia yang tereksploitasi dan ekses sosial yang
ditimbulkannya. Istilah Seni lingkungan yang digunakan Greenmuseum mencakup ke
dalam pengertian Eco-art, Land Art, Nature Art, Earthworks, Green-Art,
Site Specific Art atau istilah baru yang paling radikal adalah Ecoventions.
Guggenheim Museum
mendefenisikan seni lingkungan sebagai Artist`s Intervention yang merujuk pada
lokasi spesifik. Dari Artists Intervention ini kemudian dikenal Public Art
sebagai manifestasi kreatif yang mengacu pada tempat tertentu.
Negosiasi Ruang Outdoor
Betty Ann Brown
sejarawan, kurator dan kritikus mengungkapkan dalam sebuah kuliah umum, “Di
antara karya seni yang paling menakjubkan dari abad keduapuluh adalah karya
seni lingkungan Running Fence, karya
seniman Chrisro dan Jeanne-Claude”. Di California, batas antara Sonoma dan
Morin County, adalah kilauan cahaya terbentang sepanjang lima belas kaki.
Meliuk berkelok mengikuti tebing batu meliwati padang rumput, diselingi
bebatuan dan pasir gurun. Kilauan cahaya itu berlari menuju pantai dan laut
yang berkarang. Itulah “Running Fence” karya Christo berpasangan dengan Jeanne
Claude.

Running Fence 1972-76. Photograph
by Jeanne-Claude 1976
(Smithsonian American Art Museum).
“Running Fence” terbuat
dari nilon sejenis parasut. Proyek seni outdoor yang menyerupai pagar raksasa
dibangun dari tahun 1972 dan selesai pada 1976. Christo dan Jeanne dalam
memulai proyek, harus melakukan berbagai negosiasi dan birokrasi perizinan. Mereka
berusaha menarik simpati untuk mendapatkan keihlasan penerimaan penduduk untuk
ikut berpartisipasi, bekerja bersama. Mereka terdiri dari masyarakat peternak
sapi dan pemerah susu yang tinggal di wilayah itu.
Masyarakat tergugah
menyaksikan keindahan “Running Fence”. Mereka tersadar bahwa telah terlibat
secara keseluruhan dalam pembuatan karya itu atas keindahan lingkungan di
wilayah mereka. "Ini adalah lingkungan karena mereka memberi kami kekuatan
untuk melihat planet kita dengan cara yang berbeda”. "Memaksa kita untuk
berpikir tentang apa yang ada bumi ini, bagaimana kita memperlakukan bumi, dan
siapa diri kita di bumi”. Christo menjadikan planet bumi sebagai palet.
Dari Sonoma-Morin County
di California, rentang waktu dan jarak membawa kita kembali ke kota Jakarta.
Jakarta adalah kota kapitalis dunia yang semena-mena terhadap masyarakat
miskin. Padahal masyarakat kecil adalah bagian dari sejarah perkotaan. Kemiskinan tidak pernah diminta
untuk hadir bersemayam di tubuh orang kecil, tetapi mereka diciptakan sebagai
korban peradaban di tengah-tengah gemerlapnya kehidupan kapitalisasi kota.
Masyarakat miskin kota mencoba membangun negosiasi dengan kota. Setiap waktu
mereka menyiasati ruang-ruang kota yang telah dikendalikan oleh kalkulasi
kapital. Karena jauh dari kekuatan formalisme, negosiasi informal pun
dilakukan, tetapi itu pun selalu kandas dengan penggusuran. Penggusuran terus
terjadi dan negosiasi selalu saja terpotong. Kota, tidak ingin memiliki
pengetahuan tentang kemiskinan, karena penguasa kapitalis kota adalah anti
pengetahuan.
Negosiasi baru harus
dibangun kembali. Bundaran HI yang menjadi center point kota Jakarta harus
direbut walau hanya sesaat sebagai simbol dan semangat dalam bernegosiasi
memperjuangkan ruang publik. Di bulan Oktober 2003, dengan berbagai cara walau
pemberian izin dari pemerintah kota ditolak, Bundaran HI berhasil direbut
selama 7 hari dan 7 malam. Sebanyak lebih dari 3.000 orang yang terhimpun dalam
Masyarakat Miskin Kota Jakarta didukung puluhan seniman dan organisasi
keagamaan mengambil tempat untuk melakukan serangkaian acara kesenian dalam
Mount Ocean Ritual Feast di Bundran HI yang keramat itu. Pesta seni memohon
hujan turun untuk meredam temperatur di jantung kota berlangsung penuh hikmat,
walau selalu waspada dengan ancaman premanisme. Ruang publik kota Jakarta
adalah ruang yang penuh kendali tetapi bebas, lepas, dan mengandung
konflik.


“Mount Ocean Ritual
Feast” 2003 di Bundaran HI Jakarta. Penyelenggara oleh: UPC Jakarta. (Foto:
Firman Djamil)
Seniman, Orang Biasa di Outdoor
Christo dan Jeanne
Claude, Prita Mulyasari beserta elemen masyarakat yang membantunya dan
komunitas Masyarakat Miskin Kota Jakarta adalah orang-orang biasa di ruang
outdoor. Dalam wilayah yang berbeda, mereka telah meninggalkan artefak
berupa Running Fence, Koin Prita dan Bundaran HI. Setiap artefak
tersebut memiliki wacana yang berbeda. Namun ketiganya dapat dibingkai dalam
nilai perjuangan yang sama.
Di ruang terbuka
(Outdoor), sifat elitisitas baju atau kesenimanannya tidak berlaku. Tetapi
kualitas nilai di balik baju yang dipakai lebih digunakan sebagai medan
negosiasi. Dalam perspektif komunikasi, outdoor adalah ruang konfrontasi di
mana berbagai nilai saling berebut pengaruh. Berbagai kekuatan saling beradu.
Simpul-simpul nilai disebar dalam memperjuangkan hak-haknya untuk dipahami.
Sementara fungsi seniman
di wilayah terbuka adalah pembangun aktivitas edukasi. Praktek dematerialisasi
harus diberlakukan.
Negosiasi ruang terbuka
untuk meredam ketegangan adalah wilayah seniman untuk melakukan pekerjaan
estetis. Tidak dengan sebaliknya, seniman memaksakan ego melalui karyanya
sehingga terjadi ketegangan baru kepada publiknya sendiri. Seperti yang terjadi
pada beberapa karya publik Biennale Jogja X ini, diprotes oleh warga (Harian
Jogja, 2009). Ruang publik buka otoritas seniman tetapi milik bersama.
Praktek pembuatan karya
seni yang menggunakan prinsip seni lingkungan sejalan dengan keinginan
prinsip-prinsip kebudayaan tradisional. Keunggulan seni tradisional karena
kesanggupannya melakukan komunikasi diaologis kepada masyarakatnya.
Namun untuk memasuki
realitas dunia yang terjadi sekarang, praktek kesenian harus mencari metodologi
yang baru untuk melakukan interaksi.
Metodologi yang
ditawarkan oleh seni lingkungan menjadi cara yang efektif untuk menjawab
tantangan demoralisasi modernism yang menyesatkan arah humanity peradaban
manusia. Namun pilihannya, seniman harus menanggalkan baju elititas
individualnya.
Dalam membangun kesenian yang dialogis di ruang outdoor, kota Jogyakarta lebih
beruntung dibandingkan dengan Sonoma-Morin County di California dan kota
Jakarta. Ruang outdoor Jogyakarta kelihatan masih mampu meredam sampah
modernism yang ditebar melalui beragam media. Karena kota ini dilandasi
kebudayaan tradisional yang kuat.
Alun-alun sebagai ruang
publik dari konsep tradisionalnya masih bertahan sampai kini. Para pekerja
budaya terbuka jalan untuk bertanggungjawab dalam meredam ketegangan peradaban.
Akankah Biennale Jogja
berikutnya mampu menjadi negosiator untuk meredam ketegangan di wilayah
outdoornya sendiri dan seniman bersedia menjadi orang-orang biasa? Kita tunggu!
KEPUSTAKAAN
----------------------, (2009), Tim Kurator Biennale Jogja X, Bulletin
Biennale Jogja X.
Gablik, Suzi (2004), A
New Front. Pub: Greenmuseum.com
Gablik, Suzi (2004),
Has Modernism Failed? (Revised Edition), London: reissued by Thames &
Hudson.
Harian Jogja, 17 Desember 2009,
Biwara: Biennale Jogja X.
Kaye, Nick (2001), Site-Specific Art, London and New York:
Routledge.
KOMPAS,
20 Desember (2009), Metropolitan: BI Akan
Bantu Fasilitasi Koin.
Lister, Rosi, (2003), What is Environmental Art? Visual
Culture and Nature On-Line Magazine.
Maja and Reuben Fowkes (2004), Unframed Landscapes :
Nature in Contemporary Art, Pub: Greenmuseum.com
Weintraub, Linda, with Skip
Schuckman (2006), The Message of the Medium, Avant-Guardians: Ecology and Art at the Cultural
Frontier, Pub: Greenmuseum.com
www.ehow.com/video_4755755_what-environmental-art.
http://www.labiennale.org/it/biennale/storia/
http://www.gb.or.kr/?document/
http://www.natureartbiennale.org
http://www.ivaa-online.org/archive/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar