Jumat, 17 April 2026

SENI ADALAH RITUAL? RITUAL ADALAH SENI?

 

SENI ADALAH RITUAL? RITUAL ADALAH SENI?

Pengantar diskusi pada seminar Mahasiswa - ISBI Sulawesi Selatan 2017

Oleh: Firman Djamil

 

Judul diatas adalah sebuah pertanyaan mendalam pada masyarakat seni dalam praktek estetik diranah kontemporer.

Sebuah kata kunci dalam memasuki diskusi untuk menggali spirit ritual kita pada praktek seni kontemporer:

                “Mitos, memelihara dan mewariskan paradigma” (Mircea Eliade’1958)

Manusia kuno merasakan dirinya tidak dapat dipisahkan dengan kosmos dan irama kosmik, sedangkan manusia yang berasal dari masyarakat modern menyatakan bahwa dia hanya berhubungan dengan sejarah.

Dari pernyataan ini, adakah saling keterhubungan antar keduanya, antar manusia dengan tradisi kuno yang transendental dengan tradisi manusia modern yang logik yang dapat kita ambil hikmahnya? untuk kemudian dapat dipakai sebagai jalan estetik dalam prosesi kontemporer atau kekinian dalam memproduksi intelektualitas dan kesenian kita?

 

Pemahaman umum kita tentang Seni dan ritual telah terhubung sejak karya seni paling awal diciptakan di Zaman Batu Tua. Mari kita mencoba untuk mencari tahu hubungan antara seni dan ritual melalui beragam contoh yang telah dipraktekkan oleh kelompok masyarakat dan juga praktek seni dari seniman dari banyak belahan dunia dan banyak periode waktu, termasuk seni kontemporer. Bagaimana seni telah digunakan dalam ritual yang berkaitan dengan keyakinan spiritual, penyembuhan, siklus hidup, kekuatan politik, kohesi sosial, dan identitas pribadi? Atau apa saja proses dimana seni mewujudkan, mewakili, atau mengubah kepercayaan spiritual dan keyakinan lainnya dalam ritual?

 

Apa hubungan antara Ritual  dan Seni?

Beberapa pandangan:

-          Sir Ernst Gombrich OM (1909-2001) Sejarawan seni kelahiran Austria dalam 'The Story of Art':  dia mengatakan bahwa "Tidak ada yang namanya Seni. Hanya ada seniman.

Dalam seni dan ritual, Gombrich mengemukakan hipotesisnya bahwa sejauh menyangkut isyarat, skema yang digunakan oleh seniman pada umumnya telah terbentuk dalam ritual, dan bahwa seni dan ritual tidak dapat dipisahkan. Namun menambahkan bahwa dalam sejarah seni, masalah estetika semacam itu biasanya dianggap sebagai perpecahan teoritis antara ungkapan 'tulus' versus 'teatrikal'.    Bahkan Gombrich  menegaskan tentang bahaya ritual karen adanya simbol ketulusan  dengan akting-teaterikal yang tidak realistis seperti yang ditujukan pada acungan tinju poster-poster heroik komunis Rusia. Sejak era komunisme sampai dengan praktek Demokrasi, penguasa mendominasi praktek kesenian kita dengan jargon pencitraan – sebagai Jargon politik penguasa. F8 misalnya di Makassar.

 

-          John Dewey, berpendapat : Seni adalah Ritual” seni adalah keseharian itu sendiri. Seni merujuk pada artefak. Sebuah objek batu hanya akan menjadi objek seni bila ada sesorang yang memberi “frase”. Seorang seniman dalam kesehariannya akan mengukir memproduksi benda seni yang estetis. (Bandingkan dengan penciptaan keris oleh seorang empu).

Teori seni Dewey ini lebih cenderung kepada praktek seni environmental. Seni yang dibangun berdasarkan kolektifitas sebagai bagian dari ekspresi masyarakat.

 

-          Cynthia Freeland dalam “But It Is Art?” Freeland tidak bermaksud untuk menegaskan bahwa semua karya seni adalah ritual atau bagian dari ritual. Tetapi dia berpendapat "Ada kesinambungan antara seni dan ritual. Ritual dan seni pada dasarnya terhubung, dan seni memainkan fungsi yang sama hari ini dengan ritual yang dimainkan di masa lalu." Juga bisa berarti bahwa cara terbaik untuk memahami sifat seni adalah memahami hubungannya dengan ritual.

Freeland menganggap teori ritual seni sebagai teori implisit yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat sebelum teori imitasi. Bukannya masyarakat seperti itu benar-benar memiliki konsep seni, tapi mereka memiliki praktik ritual tertentu, dan apa pun yang menjelaskan praktik ini juga akan menjelaskan konsep penerus yang sekarang kita sebut seni.

Kesimpulan Freeland adalah bahwa meskipun seni dapat memiliki "aspek ritualnya sendiri", aspek-aspek ini "sama sekali tidak seperti yang dicapai oleh peserta yang sadar dengan nilai transenden yang sama": seperti dalam ritual suku Maya.

 

Disinilah sulitnya alasan teori ritual dipraktekkan dalam praktek seni kontemporer.

Seperti yang dicontohkan dalam karya Andres Serrano's Piss Christ (1987). Karya itu adalah foto berwarna yang sangat jenuh dari sebuah salib yang mengambang di toples urin.

Salib serrano membangkitkan jenis religiusitas yang sama Andy Warhol memberi penghormatan pada seri Perjamuan Terakhir, sebuah sorotan seni yang terkenal pada tahun 1980an, dan sama seperti Warhol adalah seorang Katolik yang tulus, Serrano menciptakan citra semangat barok yang jelas dan intens. Penderitaan Kristus dilihat melalui kaca, secara gelap - atau dalam hal ini bersinar melalui air kencing kuning, bercahaya tanpa noda di dalam detritus tubuh bau busuk.

 

Sekarang bagaimana dengan kita?

Nusantara terbentang luas berupa samudra dan pulau-pulau yang kesemuanya dipenuhi beragam ritual dan budaya. Kekayaan atas keberagaman budaya Nusantara, seharusnya menjadikan kita terdepan dalam mengemukakan teori seni dan ritual yang mutahir untuk diutarakan kepermukaan dalam mewacanakan seni di forum dunia.

Budaya kita mengenali berbagai mitologi dan pusat-pusat ritus. Misalnya Pusat kosmis manusia Bugis yang dilukiskan dalam epik I La Galigo yang mashur itu yang terdiri dari Dunia atas  - Boting Langi, Dunia tengah dunia manusia - Ale Kawaq, Dunia bawah Paratiwi - Buri Liu. Atau tentang Borobudur sebagai pusat kosmis di tanah Jawa, atau Kabbah di Makkah sebagai pusat kosmis dan religiusitas ummat muslim. Keunggulan ritual ini karena mengunakan metode perulangan sebagai bagian menentukan untuk mewujudkan kwalitas spiritual untuk mewujudkan nilai yang paripurna.

 

Kesimpulan

Semestinyalah para kaum intelektual dan pelaku seni di Indonesia atau Makassar khususnya, berbenah untuk mengemukakan keunggulan-keunggulan budayanya untuk dijadikan spirit dalam menciptakan keunggulan dibidang filsufat dan seni.

Pengalaman dari dari ketiga pandangan filsuf diatas, kita akan mengambil manfaat untuk tujuan proses kreatif dalam memasuki ranah seni kontemporer dengan lebih cenderung memilih pandangan John Dewey karena lebih dekat dengan kondisi faktual dengan tradisi budaya nusantara. Teori seni sebagai ritual keseharian, dimana kita dapat mengenal sebuah budaya melalui pengalaman langsung dari kegiatan seninya sebagai fakta eksternal.

Praktek ritual dan seni seharusnya memperkuat hubungan masyarakat yang benar dengan Tuhan, dan kekerabatan antara masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Bacaan:

-          Mircea Eliade, Mitos Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos dan Sejarah, Penerbit: Ikon Teralitera, Yogyakarta 2002

-          E.H Gombrich, The Story of Art, Phaidon Press, New York, 1960

-          https://archive.org/stream/in.ernet.dli.2015.29158/2015.29158.The-Story-Of-Art#page/n5/mode/2up

-          Cynthia A. Freeland, But It Is Art?, An Introduction to Art Theory, Oxford University Press, 2001

-          Marcia Muelder Eaton, Persoalan-persoalan Dasar Estetika, Penerbit Salemba Humanika, Jakarta 2010

-          Arung Pancana Toa, La Galigo Jilid II, Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar 2000

-          Art-Firman Djamil, www.firmandjamil.blogspot.com

Di Outdoor, Seniman adalah Orang Biasa.

 

DI OUTDOOR, SENIMAN ADALAH ORANG BIASA

By: Firman Djamil

Humanisme Komunal Biennale Jogja X 2009

“Selama 10 kali digelar hajatan yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali, akhirnya Biennale Jogja X kembali ke rakyat”. Pernyataan tersebut ditekankan Direktur Biennale Jogja X, Butet Kertaradjasa pada pembukaan pameran 11 Desember 2009. Kembali ke rakyat memberi tanda bahwa kesenian dalam format biennale merupakan bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat luas. Karenanya, harus dikembalikan kepada mereka.

Untuk mendekati nilai kerakyatan, model pameran biennale dibagi menjadi presentasi indoor dan outdoor. Di dalam ruangan, dipamerkan karya lukisan, digital print dan karya berbentuk tiga dimensi berupa patung, instalasi obyek dan seni video. Pameran indoor menempatkan karya seniman di Taman Budaya, Museum Nasional Jogyakarta dan Sangkring Gallery, plus pameran arsip tentang perjalanan sejarah Biennale Jogja yang dipersembahkan oleh IVAA di gedung Bank Indonesia. Sementara di ruang terbuka, yang di istilahkan Public on the Move, ditampilkan karya patung, instalasi, seni mural dan art performance. Pameran ruang terbuka menempati seluruh ruang publik kota Yogyakarta termasuk di papan-papan iklan kota. 

Biennale Jogja X 2009 dalam membangun kerangka teoritisnya, menggunakan istilah Jamming mengingatkan pada jam-session di pentas musik, misalnya ngejazz bersama-sama dan disebut Jamming-Gerakan Arsip Senirupa. Gerakan arsip merupakan konsep dalam mempresentasikan perhelatan biennale secara keseluruhan. Menurut kurator biennale, jamming bertujuan mendapatkan ruang apresiasi dan refleksi kemanusiaan dalam keragaman praktik karya senirupa, mengelola gerakan terbuka dan komunal, mengarsip praktek artistik semua bentuk seni rupa di Jogyakarta.

Dalam menguatkan legitimasi dukungan kepada kelembagaan biennale ini, panitia melakukan serangkaian acara diskusi yang menguraikan pesan-pesan dari isi biennale X, termasuk acara kuliah umum diruang terbuka (public lecture).

 

http://www.panyingkul.com/gambar/13februari2010

 

“Sapu Merah” Karya Firman Djamil - Biennale Jogja X 2009

(Foto: Dokumentasi Firman Djamil)

 

Kembali ke Rakyat

Gagasan “kesenian kembali ke rakyat” tidak terlepas dari sejarah perjalanan panjang Biennale Jogja. Dimulai sejak tahun 1998 yang ketika itu bernama BSLY-Biennale Seni Lukis Yogyakarta. Sejarah biennale merupakan diaspora kesenimanan Yogya yang berasal dari berbagai kelompok senirupa. Termasuk kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi, terutama dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Institusi ini banyak melahirkan seniman. Ketika membaca “kesenian dan kerakyatan” pada Biennale X, maka hal itu meretrospeksi pikiran kita pada peristiwa Binal Eksperimental Arts 1992.

Katalog Biennale Seni Lukis Yogyakarta dan Katalog BINAL Eksperimental 1992. (Dokumentasi IVAA).

 

Perhelatan Binal Eksperimental Arts 1992 dalam catatan arsip IVAA, adalah sebagai bentuk kritik terhadap Institusi BSLY 1992 atas ketertutupan dan elitisme, sistem kemapaman seni lukis pada biennale tersebut. Penentangan oleh sekelompok seniman muda, untuk mendobrak sekat-sekat disiplin seni rupa yang terjebak dalam “elitisme seni lukis” yang menjadi parameter tunggal praktik estetik senirupa. Sementara perkembangan wacana senirupa di luar intitusi biennale, berkembang dan beragam dalam bentuk ekspresi.

Seniman juga telah bersentuhan secara terbuka pada pergaulan wacana senirupa internasional. Ketika institusi BSLY 1992 yang luput dari keterbukaan wacana itu, maka sebagai tandingannya, BINAL Eksperimental Arts digelar dengan 300 partisipan.

Binal ini menggelar hajatannya diberbagai tempat indoor dan outdoor dengan ekspresi seni yang didominasi media instalasi, art performance dan bentuk seni multi media. Peristiwa ini menghebohkan, menjadi sorotan publik senirupa dan media massa. Semangat Binal Eksperimental Arts 1992, menemukan kembali momentumnya pada Biennale Jogja X 2009.

 

Biennale Alternatif

Biennale Jogja X menggelar berbagai ekspresi karya dari 126 seniman. Pameran berlangsung selama sebulan, dari 11 Desember 2009 sampai dengan 10 Januari 2010. Dalam membingkai momen-pertemuan sebagai tafsir dari humanisme komunal, tim kurator; Eko Prawoto, Hermanu, Samuel Indratma dan Wahyudin merumuskan semangat biennale ini atas pembacaannya pada sejarah dan praktik penciptaan senirupa di Yogyakarta. Rumusan itu adalah: Humanisme Kerakyatan, Humanisme Universal, Perlawanan Terhadap Kemapanan Estetika, Pergolakan Antara Budaya Lokal dan Global, Senirupa Urban. Kelima rumusan ini menjadi acuan interpretasi oleh seniman kedalam karya-karya kreatif mereka dalam memasuki wacana praktek seni kontemporer.

Merujuk pada acuan kelima poin rumusan di atas dan berdasarkan pada presentasi pameran yang khususnya digelar di ruang “publik kota” yang terjadi sekarang ini, maka muncullah karakter yang unik. Berbeda dari standar biennale senirupa yang ada. Bahkan dengan biennale internasional sekalipun. Perbedaannya terletak pada “konsep otonomi ruang” yang ditawarkan untuk dijadikan ruang presentasi. Dalam menggaet seniman untuk berpartisipasi dalam perhelatan Biennale Internasional, dilakukan seleksi ketat karena adanya prosedur standar yang legitimatif dan sejumlah aplikasi prasyarat yang harus dipenuhi oleh calon seniman peserta.

Berbanding terbalik dengan Biennale Jogja X yang longgar, yaitu mempersilakan keberagaman kerja seniman untuk masuk menjadi peserta biennale, sebagai acuan dari konteks Jamming Gerakan Arsip Senirupa. Otonomi ruang pada Biennale Internasional seperti Venice Biennale di Italia atau Gwangju Biennale di Korea, karena didukung oleh kelembagaan mapan dan pendanaan yang kuat, mampu menciptakan ruang otonominya sendiri dalam space yang luas dan spesifik secara permanen. Namun interpretasi ruangnya adalah open space, bukan outdoor. Hal ini menunjukkan kedua biennale tersebut adalah  mainstream  dalam praktek kontemporerisasi senirupa. Sementara Biennale Jogja X tidak memiliki ruang otonomi khusus dan permanen. Kemudian diikuti perbedaan dalam mengorganisir jalannya pameran, lepas namun terkesan partisipatif. Ini membuat Biennale Jogja berada pada posisi alternatif.

Disinilah menariknya, karena “outdoor” sebagai konsep praktek senirupa memang tidak memiliki ruang otonomi khusus. Outdoor adalah ruang yang bebas dan lepas dan membutuhkan model egalitarian dalam menafsir ruang. Sedangkan open space adalah ruang otonomi yang sudah ditentukan oleh tafsir dari kehendak atau semacam egosentrisme penyelenggara biennale. Artinya masih berada dalam wilayah rezim indoor. Antara acuan Venice Biennale, Gwangju Biennale dengan Biennale Jogja X yang mengarah kepada interpretasi outdoor seharusnya berbeda, karena latar belakang sejarah dan kondisi sosial budaya masyarakatnya yang berbeda pula. 

Biarkanlah kota Venice, Gwangju dan Yogyakarta hadir dengan biennale senirupanya masing-masing. Mainstream versus alternatif. Keunikan dari karakteristik Biennale Jogja X menjadi poin penting sebagai modal bagi praktek wacana seni kontemporer dalam memposisikan diri di dunia senirupa Internasional.

Untuk menjadi biennale berskala internasional, metode kerja Biennale Jogja harus mempertimbangkan kesiapan seniman dalam membaca ruang publik. Kelembagaan biennale berfungsi sebagai fasilitator dan negosiator bersama dengan seniman untuk memasuki wilayah publik atau ruang outdoor. Contoh kesuksesan biennale alternatif dalam memposisikan diri diwacana seni kontemporer internasional, misalnya, bisa dilihat pada “Geumgang Biennale” di kota Gong-ju, kota kecil yang terletak 150 kilometer dari kota Seoul-Korea. Geumgang Biennale awalnya hanya berupa symposium, setaraf dengan festival seni yang diorganisir oleh kelompok perupa yang bernama YATOO.

 Landscape of Gong-ju City - Site for Geumgang Biennale - Korea

 

Through the three weeks, the artists from around the world live together and create their works while introduction session for the nature art project, international nature art seminar and other programs are conducted in parallel. Programs to introduce the Korean culture to foreign artists and IWO campers and 'patchwork for nature and peace' created together with children and other citizens are also available during the exhibition period. The works of the artists will be displayed in Mt. Yeonmisan Nature Park to allow visitors to observe how they change through time (www.natureartbiennale.org).

Awal Seni Ruang Terbuka (Outdoor)

Di akhir tahun 60-an awal 70-an, gerakan seni yang mempertanyakan fungsi seni (sebagai perlawanan terhadap formalisme modern dan kegagalan modernisme), meninggalkan galeri dan museum. Gerakan ini melakukan aktivitas seni berkelanjutan di ruang terbuka dengan mengambil landscape alam sebagai kanvas raksasa. 

Menurut kritikus Maja dan Reuben Fowkes, “seni berkelanjutan” ini dapat dilacak dengan seni konseptual yang menekankan pada dematerialisasi dan lebih memberi perhatian pada lingkungan. Seni berkelanjutan atau sustainable art telah muncul sebagai istilah seni yang selaras dengan prinsip-prinsip kunci keberlanjutan, yaitu mencakup ekologi, keadilan sosial, non-kekerasan dan demokrasi akar rumput. 

Suzi Gablik, seorang guru, filosof, kurator, penulis buku “Has Modernism Failed?” yang ditulis pada tahun 1982, mengkritik senirupa mainstream dalam parktek seni kontemporer. Ia mengungkapkan: “Dunia seni telah menjadi kompetitif dan eksploitatif, dan bahwa fokus di dunia seni hanyalah pencarian keuntungan. Tidak hanya ini, untuk membatasi ekspresi artistik, mereka mengabaikan perhatian penting seni, yaitu estetika dan etika. ‘Otonomi estetika adalah berakar dan mendalam’, sementara praktik seni menyiratkan gagasan keterpisahan otonomi moral dan sosial sebagai kondisi pembuatan seni”.

Gablik melihat perlunya visi dunia yang seragam di mana seni dan etika tidak hanya berdampingan, tetapi bekerja sama. Gablik menemukan dalam karya-karya Ken Wilber sebagai janji integralisme. Di sini ia menemukan sebuah janji untuk mengakhiri seni yang didominasi oleh ekonomi dan konsumerisme. Seni dibebaskan untuk menjadi hidup dan penting bagi individu dan masyarakat.

 

Gerakan Koin-Prita: Peristiwa Outdoor

Memahami gerakan masyarakat di ruang terbuka, bisa ditelusuri melalui Gerakan Koin Prita, misalnya. Seluruh koin dikemas dalam ratusan karung dan kantong plastik, disimpan diberbagai ruangan di Pos Wetiga. Para relawan yang membantu menghitung koin di tempat itu sejak Senin hingga Kamis malam tercatat sebanyak 300 orang dari berbagai kalangan. Mereka mulai dari politisi, selebritis, ibu rumah tangga dan pedagang keliling. Kenyataan ini tertulis diberita koran Kompas 20 Desember 2009.

 

 

 

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/12/20/3623090p.jpg

 

 

 

 

 

 

Sehari menjelang penyerahan uang koin yang semula diperuntukkan membantu membayar denda Prita Mulyasari, Sabtu (19/12/2009), sejumlah masyarakat masih terus menitipkan uang koin di Pos Pengumpulan Koin Wetiga, Jalan Langsat 1/3a, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.                     (Foto: Kompas/Danu Kusworo).

 

Tuduhan pencemaran nama baik rumah sakit Omni Internasional atas terdakwa Prita Mulyasari, telah diputuskan pengadilan dengan tuntutan ganti rugi sebanyak Rp204 juta. Drama keadilan atas ibu Prita yang tak seimbang itu, berada persis didepan mata kita. 

Respon serentak dari berbagai elemen masyarakat dalam menjawab tantangan atas kesewenang-wenangan di atas, menjadi model terbesar yang dimiliki bangsa ini untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Peristiwa gerakan sosial publik melalui aksi pengumpulan sumbangan uang recehan koin untuk membantu Prita yang tak berdaya, adalah peristiwa outdoor paling spektakuler di akhir tahun 2009. Inilah peristiwa outdoor dalam perspektif komunal Indonesia.

Di balik gerakan partisipasi publik di atas, muatan imaji metafisik memancarkan keindahan yang menggugah seluruh kosmis alam kejiwaan manusia. Gerakan pembebasan dari persoalan yang dihadapi bisa teratasi dengan partisipasi publik yang terintegrasi secara keseluruhan.

Dalam seni outdoor melalui prinsip-prinsip seni lingkungan, dipahami bahwa seni tidak lagi terkungkung oleh individualitas. Tetapi membangun kolektivitas dengan jalan membentuk jaringan dan mengajak partisipasi publik dari berbagai disiplin dan golongan. Seni tidak lagi mementingkan presentasi tafsir visual, melainkan proses dan interaksi yang terintegrasi.

Seni lingkungan atau environmental art adalah gerakan atas keprihatinan kondisi alam dan bumi manusia yang tereksploitasi dan ekses sosial yang ditimbulkannya. Istilah Seni lingkungan yang digunakan Greenmuseum mencakup ke dalam pengertian Eco-art, Land Art, Nature Art, Earthworks, Green-Art, Site Specific Art atau istilah baru yang paling radikal adalah Ecoventions.

Guggenheim Museum mendefenisikan seni lingkungan sebagai Artist`s Intervention yang merujuk pada lokasi spesifik. Dari Artists Intervention ini kemudian dikenal Public Art sebagai manifestasi kreatif yang mengacu pada tempat tertentu.

 

Negosiasi Ruang Outdoor

Betty Ann Brown sejarawan, kurator dan kritikus mengungkapkan dalam sebuah kuliah umum, “Di antara karya seni yang paling menakjubkan dari abad keduapuluh adalah karya seni lingkungan Running Fence, karya seniman Chrisro dan Jeanne-Claude”. Di California, batas antara Sonoma dan Morin County, adalah kilauan cahaya terbentang sepanjang lima belas kaki. Meliuk berkelok mengikuti tebing batu meliwati padang rumput, diselingi bebatuan dan pasir gurun. Kilauan cahaya itu berlari menuju pantai dan laut yang berkarang. Itulah “Running Fence” karya Christo berpasangan dengan Jeanne Claude.

Christo and Jeanne Claude Running Fence Sonoma and Marin Counties California 1972 76 580x388 Smithsonian American Art Museum to Present Exhibition That Celebrates Running Fence



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Running Fence 1972-76. Photograph by Jeanne-Claude 1976

(Smithsonian American Art Museum).

“Running Fence” terbuat dari nilon sejenis parasut. Proyek seni outdoor yang menyerupai pagar raksasa dibangun dari tahun 1972 dan selesai pada 1976. Christo dan Jeanne dalam memulai proyek, harus melakukan berbagai negosiasi dan birokrasi perizinan. Mereka berusaha menarik simpati untuk mendapatkan keihlasan penerimaan penduduk untuk ikut berpartisipasi, bekerja bersama. Mereka terdiri dari masyarakat peternak sapi dan pemerah susu yang tinggal di wilayah itu.

Masyarakat tergugah menyaksikan keindahan “Running Fence”. Mereka tersadar bahwa telah terlibat secara keseluruhan dalam pembuatan karya itu atas keindahan lingkungan di wilayah mereka. "Ini adalah lingkungan karena mereka memberi kami kekuatan untuk melihat planet kita dengan cara yang berbeda”. "Memaksa kita untuk berpikir tentang apa yang ada bumi ini, bagaimana kita memperlakukan bumi, dan siapa diri kita di bumi”. Christo menjadikan planet bumi sebagai palet.

Dari Sonoma-Morin County di California, rentang waktu dan jarak membawa kita kembali ke kota Jakarta. Jakarta adalah kota kapitalis dunia yang semena-mena terhadap masyarakat miskin. Padahal masyarakat kecil adalah bagian dari sejarah perkotaan. Kemiskinan tidak pernah diminta untuk hadir bersemayam di tubuh orang kecil, tetapi mereka diciptakan sebagai korban peradaban di tengah-tengah gemerlapnya kehidupan kapitalisasi kota. Masyarakat miskin kota mencoba membangun negosiasi dengan kota. Setiap waktu mereka menyiasati ruang-ruang kota yang telah dikendalikan oleh kalkulasi kapital. Karena jauh dari kekuatan formalisme, negosiasi informal pun dilakukan, tetapi itu pun selalu kandas dengan penggusuran. Penggusuran terus terjadi dan negosiasi selalu saja terpotong. Kota, tidak ingin memiliki pengetahuan tentang kemiskinan, karena penguasa kapitalis kota adalah anti pengetahuan.

Negosiasi baru harus dibangun kembali. Bundaran HI yang menjadi center point kota Jakarta harus direbut walau hanya sesaat sebagai simbol dan semangat dalam bernegosiasi memperjuangkan ruang publik. Di bulan Oktober 2003, dengan berbagai cara walau pemberian izin dari pemerintah kota ditolak, Bundaran HI berhasil direbut selama 7 hari dan 7 malam. Sebanyak lebih dari 3.000 orang yang terhimpun dalam Masyarakat Miskin Kota Jakarta didukung puluhan seniman dan organisasi keagamaan mengambil tempat untuk melakukan serangkaian acara kesenian dalam Mount Ocean Ritual Feast di Bundran HI yang keramat itu. Pesta seni memohon hujan turun untuk meredam temperatur di jantung kota berlangsung penuh hikmat, walau selalu waspada dengan ancaman premanisme. Ruang publik kota Jakarta adalah ruang yang penuh kendali tetapi bebas, lepas, dan mengandung konflik. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Mount Ocean Ritual Feast” 2003 di Bundaran HI Jakarta. Penyelenggara oleh: UPC Jakarta. (Foto: Firman Djamil)

Seniman, Orang Biasa di Outdoor

Christo dan Jeanne Claude, Prita Mulyasari beserta elemen masyarakat yang membantunya dan komunitas Masyarakat Miskin Kota Jakarta adalah orang-orang biasa di ruang outdoor. Dalam wilayah yang berbeda, mereka telah meninggalkan artefak berupa Running Fence, Koin Prita dan Bundaran HI. Setiap artefak tersebut memiliki wacana yang berbeda. Namun ketiganya dapat dibingkai dalam nilai perjuangan yang sama.

Di ruang terbuka (Outdoor), sifat elitisitas baju atau kesenimanannya tidak berlaku. Tetapi kualitas nilai di balik baju yang dipakai lebih digunakan sebagai medan negosiasi. Dalam perspektif komunikasi, outdoor adalah ruang konfrontasi di mana berbagai nilai saling berebut pengaruh. Berbagai kekuatan saling beradu. Simpul-simpul nilai disebar dalam memperjuangkan hak-haknya untuk dipahami.

Sementara fungsi seniman di wilayah terbuka adalah pembangun aktivitas edukasi. Praktek dematerialisasi harus diberlakukan.

Negosiasi ruang terbuka untuk meredam ketegangan adalah wilayah seniman untuk melakukan pekerjaan estetis. Tidak dengan sebaliknya, seniman memaksakan ego melalui karyanya sehingga terjadi ketegangan baru kepada publiknya sendiri. Seperti yang terjadi pada beberapa karya publik Biennale Jogja X ini, diprotes oleh warga (Harian Jogja, 2009). Ruang publik buka otoritas seniman tetapi milik bersama.

Praktek pembuatan karya seni yang menggunakan prinsip seni lingkungan sejalan dengan keinginan prinsip-prinsip kebudayaan tradisional. Keunggulan seni tradisional karena kesanggupannya melakukan komunikasi diaologis kepada masyarakatnya.

Namun untuk memasuki realitas dunia yang terjadi sekarang, praktek kesenian harus mencari metodologi yang baru untuk melakukan interaksi.

Metodologi yang ditawarkan oleh seni lingkungan menjadi cara yang efektif untuk menjawab tantangan demoralisasi modernism yang menyesatkan arah humanity peradaban manusia. Namun pilihannya, seniman harus menanggalkan baju elititas individualnya. 

Dalam membangun kesenian yang dialogis di ruang outdoor, kota Jogyakarta lebih beruntung dibandingkan dengan Sonoma-Morin County di California dan kota Jakarta. Ruang outdoor Jogyakarta kelihatan masih mampu meredam sampah modernism yang ditebar melalui beragam media. Karena kota ini dilandasi kebudayaan tradisional yang kuat.

Alun-alun sebagai ruang publik dari konsep tradisionalnya masih bertahan sampai kini. Para pekerja budaya terbuka jalan untuk bertanggungjawab dalam meredam ketegangan peradaban.

Akankah Biennale Jogja berikutnya mampu menjadi negosiator untuk meredam ketegangan di wilayah outdoornya sendiri dan seniman bersedia menjadi orang-orang biasa? Kita tunggu!

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPUSTAKAAN

 

----------------------, (2009), Tim Kurator Biennale Jogja X, Bulletin Biennale Jogja X.

Gablik, Suzi (2004), A New Front. Pub: Greenmuseum.com

Gablik, Suzi (2004), Has Modernism Failed? (Revised Edition), London: reissued by Thames & Hudson.

Harian Jogja, 17 Desember 2009, Biwara: Biennale Jogja X.

Kaye, Nick (2001), Site-Specific Art, London and New York: Routledge.

KOMPAS, 20 Desember (2009), Metropolitan: BI Akan Bantu Fasilitasi Koin.

Lister, Rosi, (2003), What is Environmental Art? Visual Culture and Nature On-Line Magazine.

Maja and Reuben Fowkes (2004), Unframed Landscapes : Nature in Contemporary Art, Pub: Greenmuseum.com

Weintraub, Linda, with Skip Schuckman (2006), The Message of the Medium, Avant-Guardians: Ecology and Art at the Cultural Frontier, Pub: Greenmuseum.com

www.ehow.com/video_4755755_what-environmental-art.

http://www.labiennale.org/it/biennale/storia/

http://www.gb.or.kr/?document/

http://www.natureartbiennale.org

http://www.ivaa-online.org/archive/

Kamis, 03 September 2009